Meniti kerasnya kehidupan diatas panggung penuh kepalsuan
merajut mimpi diujung sinar bulan bintang
tuk sesuap nasi dihari ini dan jelang hari esok
menyimpan air mata dipelupuk
memendam dalam-dalam kepedihan
menyembunyikan keputus asaan
tuk dapat bertahan hidup
inilah jeritan suara hati bapak penjaja es keliling
Rambut yang memutih, langkah yang tertatih, usia yang tlah senja
dan dalam kesuksesan anak-anaknya
tak lantas membuatnya berubah, terangkat menjadi lebih baik
duduk, diam, bersenda gurau menikmati hari tua bersama anak cucu
atau mungkin inilah yang terbaik baginya
Seingatku,
di halaman sekolah SD ku
di halaman sekolah SMP ku
di halaman sekolah SMA ku
ku lihat bapak itu menjajakan es-esnya
bahkan di tahun keempat kelulusan sekolahku
ku temui bapak itu dengan gerobak esnya di simpang jalan
Ku tak mengerti
tak habis pikir
kemana anak-anak yang tlah dibesarkannya
dan tlah terwujudkan mimpi-mimpinya
lupakah mereka
Terbesit di benakku
aku berharap
semoga bapak itu bukan korban kedurhakaan anak-anaknya
merajut mimpi diujung sinar bulan bintang
tuk sesuap nasi dihari ini dan jelang hari esok
menyimpan air mata dipelupuk
memendam dalam-dalam kepedihan
menyembunyikan keputus asaan
tuk dapat bertahan hidup
inilah jeritan suara hati bapak penjaja es keliling
Rambut yang memutih, langkah yang tertatih, usia yang tlah senja
dan dalam kesuksesan anak-anaknya
tak lantas membuatnya berubah, terangkat menjadi lebih baik
duduk, diam, bersenda gurau menikmati hari tua bersama anak cucu
atau mungkin inilah yang terbaik baginya
Seingatku,
di halaman sekolah SD ku
di halaman sekolah SMP ku
di halaman sekolah SMA ku
ku lihat bapak itu menjajakan es-esnya
bahkan di tahun keempat kelulusan sekolahku
ku temui bapak itu dengan gerobak esnya di simpang jalan
Ku tak mengerti
tak habis pikir
kemana anak-anak yang tlah dibesarkannya
dan tlah terwujudkan mimpi-mimpinya
lupakah mereka
Terbesit di benakku
aku berharap
semoga bapak itu bukan korban kedurhakaan anak-anaknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar